Palma telah kering,
hijaunya lenyap,
membubung bersama waktu,
terserap sejarah masa lalu,
tentang tangan seribu yang mengelu-elu :
“Hosana.. Hosana.. Bagi Putera Daud!”
Adakah kau di situ?
Palma-palma kering masuk ke tungku,
menjadi abu,
melekat berupa salib di keningmu
di hari Rabu.
Adakah kau di situ?
Kesakralan ritual takkan berarti apa-apa,
tanpa kita mengenang abu, debu,
sesuatu yang tak berharga,
namun dari sana moyang kita,
Adam dan Hawa.
Abu jugalah yang membuat Tuhan tersentuh,
ketika Raja Niniwe menggunduli diri dan telanjang,
lalu sujud di dalam abu bersama rakyatnya,
setelah diingatkan Yunus akan dosa mereka,
Niniwe tak jadi diluluhkan bagai Sodom dan Gomora.
Abu, debu, dan keheninganlah yang menemani Yesus,
di padang gurun ketika berpuasa.
Adakah kita di situ?
Sebagai iblis atau muridnya?
(Bekasi, 11 Februari 2013)
Norman Adi Satria
