Home

Yohanes dan Yesus

 

Tahun-tahun Masehi yang baru saja diresmikan terus berlalu, namun sebuah bangsa yang merindukan kemerdekaan tak juga menemukan pemuas rindunya, mereka masih terjajah, sebagai orang jajahan.

Di atap sebuah rumah, Yohanes (19 tahun) dan Yesus (17 tahun) duduk berdua sebagai orang muda, memandang Bukit Tengkorak, Golgota. Beberapa waktu lagi Sabath Paskah datang, namun Tentara Romawi tetap menjalankan eksekusi bagi dua puluh pemberontak kekaisaran. “Lihatlah kekejian!” ucap Yohanes, menunjuk dua puluh pemberontak di atas tiang salib itu.

Yesus memandangnya dengan hati teriris, menghela napas panjang, “Mungkin itu sebuah jalan, Nes. Jalan menuju sebuah kepenuhan perjuangan, pengorbanan total sebagai pemberontak-pemberontak yang menentang kekaisaran demi merdekanya negeri peninggalan Daud ini.”

Yesus menyodori buah ara di piringnya, Yohanes menolak. Yohanes melanjutkan, “Ya, pemberontak bagi penjajah adalah pahlawan bagi kita yang butuh merdeka. Sayangnya mereka bergerak sendiri-sendiri, ataupun jika berkumpul mereka hanya membentuk kekuatan fisik, yang memberontak dengan bentrokan fisik. Tak pernah ada yang membangun kekuatan intelektual, pemikiran. Sebenarnya itulah yang kita butuhkan sekarang, Adikku : kita perlu Pemimpin Pemikiran, bukan pemimpin otot.”

Yesus mengambil satu buah ara dan meletakkan piringnya, “Ya, kau benar, Yohanes. Aku jadi teringat kitab Yesaya dan Mazmur. Kau tentu tahu benar tentang janji Elohim : akan datang Mesias, pembebas. Apakah mungkin Mesias akan datang di zaman kita ini?”

Yohanes tertegun, “Ratusan tahun nenek moyang kita menunggunya, Adikku. Mesias tak juga datang. Ciri-cirinya pun kita tak tahu. Begitu sulit menerjemahkan Mazmur, syair Daud itu. Namun yang bisa kita lakukan hanya menjadi penunggu. Ya, penunggu.”

Yesus tersenyum geli, membayangkan sesuatu, “Mungkin juga ramalan itu ditujukan untukmu, Nes. Mesias adalah seorang yang diurapi. Sebentar lagi kau akan diurapi menjadi imam, menggantikan Zakaria, ayahmu.”

Yohanes tersenyum dan menggelengkan kepala, “Tidak, Adikku. Aku takkan jadi Mesias, imam pun tidak. Aku akan bicara pada ayahku untuk mencari orang lain sebagai penggantinya. Aku akan pergi dari rumah, ke sebuah tempat di padang gurun. Aku ingin masuk ke sebuah komunitas yang mendedikasikan diri sebagai para penunggu Mesias. Tentu kau ingat, sebelum datangnya Mesias, akan hadir seorang yang digambarkan sebagai Singa yang berseru-seru di padang gurun : Persiapkanlah jalan bagi Tuhan.”

“Tentu ayahmu akan begitu sedih.” Yesus menimpali.

“Aku tak yakin jika ayahku akan berkeras bila aku menyatakan alasanku. Alasanku tak terbantahkan, aku mendapat panggilan jiwa.” jawab Yohanes.

“Panggilan jiwa…?” Yesus berpikir sejenak. “Apakah panggilan jiwa mampu mengalahkan takdir? Takdir berdasarkan garis keturunan yang mewajibkanmu menjadi seorang imam? Kau keturunan Lewi.”

“Kita bicara tentang kemerdekaan, kebebasan, namun kau masih membela pengekangan dan penjajahan: penjajahan spiritual. Aku mungkin akan disebut penghianat nenek moyang. Namun ingat, kelak aku pun akan jadi nenek moyang juga! Terserah generasi setelahku akan mengikuti jalan yang dilalui nenek moyang sebelumku atau mengikuti jalanku.” sanggah Yohanes.

“Aku semakin yakin.. kau layak menjadi pemimpin, pemimpin yang kau sebut Pemimpin Pemikiran.” Yesus memandang wajah Yohanes.

“Tidak. Aku takkan jadi pemimpin itu. Aku hanyalah mukadimah, aku akan menjadi Singa di padang gurun itu.”

Itulah hari terakhir Yohanes dan Yesus bertemu. Tahun-tahun berikutnya setiap Paskah, Yesus dan orangtuanya singgah ke rumah Zakaria dan Elisabeth, namun tak pernah menemukan Yohanes. Yohanes telah pergi meninggalkan orangtuanya, ke padang gurun, untuk mendalami ilmu yang disebut : menunggu.

Bersambung…..

 

Bekasi, 29 Maret 2013

Norman Adi Satria

About these ads

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s