Home

image

bisakah kualitas diukur dengan angka-angka,
atau sebaliknya,
mampukah angka-angka mengukur kualitas?

angka enam tak lebih buruk dari sembilan
meski bentuk kepalanya berubah jadi perut.
beda lagi jika kau mengukurnya dalam kuantitas
tentu enam lebih sedikit ketimbang sembilan,
dan sebaliknya.

pemimpin negeri ngotot:
kualitas anak bangsa
harus dihitung dengan angka.

yang goblok bukan berarti tak mampu dapat sepuluh,
yang pintar bisa saja dapat dua setengah,
lalu yang goblok dianggap pintar
yang pintar dianggap goblok.

lagi pula pintar dan goblok tak hanya bisa diukur melalui sebidang hafalan,
bisa jadi yang nilainya besar itu hanya lihai dalam bidang menghafal,
namun nol dalam penerapan ilmu:
pendidikan budi pekerti dapat nilai
sempurna,
dalam praktek jadi pelaku asusila,
matematika dapat sempurna,
sehari-hari jadi bandar judi bola.

sudahlah,
simpan angka-angka itu untuk mengukur:
berapa pajak yang diberi oleh rakyat
dari mulai beli kolor sampai motor,
dari mulai penjulan lanting sampai buang kencing,
dari mulai produksi bubur hingga masuk liang kubur;
rakyat kenyang bayar segala pajak,
namun masih ada yang tak mampu beli ketoprak.

lalu pikirkan kembali:
takaran apa yang bisa mengukur kualitas,
misalnya dengan suatu fakta kegagalan dalam melaksanakan tugas.
contoh konkretnya:
kegagalan dalam menyelenggarakan ujian nasional,
yang dapat mengukur kualitas sistem penyelenggaraan pendidikan negeri kita.

(bekasi, 15 april 2013)
norman adi satria

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s