Home

image

Gerimis meringis
“Jatuh itu sakit, Bung”
katanya usai menimpa kerikil di halamanku,
kini tertambat di daun putri malu.

“Sakit, ya memang sakit.
Tapi bukankah lebih senang bisa kembali ke jatidiri?
Menjadi bentuk paling mula,
dan paling dimengerti
karena bisa dirasa, disentuh;
menjadi air,
yang selalu dirindu tetumbuhan dan tanah;
bukan uap atau es atau apapun
yang engkau tapi tak serupa engkau.”
kataku.

“Kau, tak akan mengerti apa yang dirasa oleh air, sebuah pribadi yang sama namun tak selalu serupa.
Ketika langit membuangku, laut memanggilku.
Manusia, termasuk penyair takkan
memahaminya.”
katanya.

“Ya, kau benar. Aku pun tak pernah tahu pribadiku sendiri, yang selalu berubah bentuk, menjadi penyair,
dan ketika langit memanggil aku menjadi sajak di tangan Sang Maha Penyair.”
kataku.

“Bung, tak ada takaran kebahagiaan; apakah
kebahagiaan yang ini lebih bahagia dari kebahagiaan yang lain.
Begitu pula dengan derita.”
katanya.

Kemudian ia jatuh dari pucuk daun itu,
dan bumi menghisapnya,
lenyap.

(Bekasi, 22 April 2013)
Norman Adi Satria

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s