Home

anak ayam

Di ulang tahunku yang ke sembilan
Ayah membelikan dua ekor anak ayam,
warnanya kuning keemasan
seperti rambutku yang kepanasan.

Kata Ayah yang satu itu jantan
yang satu betina,
tapi bentuknya sama
tak ada burungnya.

“Ayah, yang jantan tak punya burung?”
“Tentu, itu ayam.”
“Lalu bagaimana aku membedakan?”
“Coba kau rayu, yang betina pasti malu-malu.”
“Lalu yang jantan?”
“Dia akan cemburu.”

Aku tak mengerti apa itu rayu,
apa itu cemburu,
yang jelas di ulang tahunku yang ke sepuluh
ayamku bertelur sepuluh.

Tiap pulang sekolah
aku tunggui ia mengeram,
sampai akhirnya menetas sembilan
jadi anak-anak ayam yang kelaminnya tak bisa kubedakan.

Aku tak lagi peduli dengan kelamin,
aku terlanjur sedih melihat satu telur tidak juga menetas,
mungkin cangkangnya terlalu keras.
“Ayah, boleh aku bantu mengupas?”
“Tak perlu. Yang perlu kau lakukan hanya ikhlas.”

Sehari kemudian aku melihat telur itu telah menetas.
“Ayah, Ikhlas telah menetaskan telurku. Esok pasti Rayu dan Cemburu akan memberi tahu aku kelamin mereka.”

(Bekasi, 3 Mei 2013)
Norman Adi Satria

About these ads

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s