Home

hujan di malam minggu

 

Katanya hujan di malam minggu itu asyik. Ya, bagi pasangan yang baru jadian dan punya mobil. Cowoknya bisa tetap ngapel, menjemput ceweknya. Dia keluar membawa payung berwarna ungu dan menjemput kekasih yang penuh rindu di depan rumah. Dia melindungi kekasihnya dalam naungan payung cinta, berjalan berangkulan hingga sampai di dalam mobil.
“Sayang, hujannya romantis.”
Rayuan itu meluncur di depan kaca mobil yang disapu wiper. Mereka menuju ke bioskop, bukan untuk menonton. Ya, mereka hanya membayar tiket untuk pacaran dalam gelap yang dingin. Disana mereka saling menghangatkan dengan suhu tubuh masing-masing.

Aku hanya punya Vespa tua, warisan Bapak. Vespa butut itu anti terkena air, bukan antiair atau water resistant — sekali kena hujan mogok di jalan. Untung dua ratus meter di depan ada telfon umum. Meski atapnya sudah rengat dan hampir ambruk, paling tidak telfonya masih nyambung.
“Sayang, mogok.”
“Lagi?”
“Maaf.”
“Aku juga mau mogok! Mogok pacaran denganmu!”
“Halo..halo! Sayang..!”
Tut-tut-tut.
Telfon putus, berbarengan dengan hubungan cintaku.
Aku berteduh di telfon umum, mengelus Vespa, saling menguatkan.

(2004)
Norman Adi Satria

About these ads

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s